EDITORIAL, PILARSULTRA.COM — Amerika Serikat dilaporkan melakukan operasi lintas negara yang berujung pada penangkapan Presiden Venezuela, sebuah langkah yang segera memicu gejolak geopolitik di Amerika Latin dan menarik reaksi keras dari kekuatan global seperti Rusia dan China. Peristiwa ini menjadi salah satu eskalasi paling serius dalam hubungan Washington–Caracas dalam beberapa dekade terakhir.
Pemerintah AS menyatakan penangkapan tersebut berkaitan dengan tuduhan kejahatan transnasional yang selama ini dialamatkan kepada kepemimpinan Venezuela. Namun dari sudut pandang Caracas dan sebagian besar negara Amerika Latin, langkah tersebut dipandang sebagai pelanggaran kedaulatan negara dan bentuk intervensi langsung terhadap pemerintahan yang sah.
Reaksi Regional: Amerika Latin dalam Tekanan
Di kawasan Amerika Latin, peristiwa ini memicu kekhawatiran akan kembalinya pola lama intervensi kekuatan besar. Sejumlah negara menyerukan penyelesaian melalui jalur diplomatik dan hukum internasional, sembari memperingatkan risiko destabilisasi kawasan, termasuk potensi krisis politik, keamanan, dan migrasi lintas negara.
Venezuela sendiri menjadi titik rawan, mengingat ketergantungan ekonomi pada sektor energi dan situasi sosial yang sudah rapuh akibat sanksi berkepanjangan.
Rusia: Isu Kedaulatan dan Tantangan Terhadap Hegemoni AS
Rusia mengecam keras langkah Amerika Serikat dan menilai penangkapan kepala negara berdaulat sebagai preseden berbahaya dalam hubungan internasional. Moskow melihat peristiwa ini bukan hanya sebagai isu Amerika Latin, tetapi sebagai bagian dari pola global dominasi AS yang mengabaikan prinsip kedaulatan jika berhadapan dengan negara yang berseberangan secara politik.
Bagi Rusia, Venezuela memiliki nilai strategis sebagai mitra politik dan simbol perlawanan terhadap hegemoni Barat. Reaksi keras Moskow juga dimaknai sebagai sinyal bahwa Rusia tidak akan tinggal diam jika praktik serupa suatu hari menyasar sekutu atau kepentingannya di kawasan lain.
China: Stabilitas, Energi, dan Kepentingan Ekonomi
China mengambil sikap lebih diplomatis namun tegas. Beijing menekankan pentingnya stabilitas, non-intervensi, dan penyelesaian melalui mekanisme internasional. Sebagai salah satu mitra ekonomi utama Venezuela—terutama di sektor energi—China berkepentingan menjaga agar konflik tidak berkembang menjadi kekacauan berkepanjangan.
Bagi Beijing, eskalasi di Venezuela berpotensi mengganggu kepentingan ekonomi jangka panjang dan memperkuat pandangan bahwa sistem internasional saat ini semakin tidak ramah terhadap negara-negara berkembang.
Dimensi Global: Venezuela sebagai Titik Tarik Kekuatan Besar
Dengan masuknya Rusia dan China dalam pusaran reaksi global, krisis Venezuela tidak lagi bersifat regional. Ia berubah menjadi arena persaingan pengaruh global, di mana Amerika Serikat, Rusia, dan China membaca peristiwa yang sama dengan kepentingan yang berbeda.
Jika ketegangan berlanjut, Venezuela berpotensi menjadi titik konflik proksi, bukan melalui perang terbuka, tetapi lewat tekanan politik, ekonomi, dan diplomatik yang saling berhadapan.
Penangkapan Presiden Venezuela oleh Amerika Serikat—terlepas dari dalih hukum yang digunakan—telah membuka babak baru ketegangan geopolitik. Reaksi Rusia dan China menunjukkan bahwa dunia kini semakin bergerak ke arah polarisasi kekuatan besar, di mana setiap langkah unilateral berisiko memicu dampak lintas kawasan.
Bagi Amerika Latin, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa stabilitas kawasan sangat bergantung pada penghormatan terhadap kedaulatan dan hukum internasional. Sementara bagi dunia, krisis Venezuela menegaskan satu hal: geopolitik global semakin keras, dan ruang kompromi semakin sempit. (red)






