PDI Perjuangan 53 Tahun: Tantangan dan Harapan di Era Apriliani

PDI Perjuangan 53 Tahun: Tantangan dan Harapan di Era Apriliani

Oleh: Sabaruddin Hasan – Jurnalis

Sabaruddin Hasan

Usia 53 tahun bagi PDI Perjuangan bukan lagi usia romantisme sejarah, melainkan usia pertanggungjawaban. Di fase ini, partai tidak cukup hanya mengulang narasi masa lalu, tetapi dituntut menghadirkan jawaban atas tantangan kekinian, khususnya di tingkat lokal, tempat rakyat benar-benar merasakan hadir atau tidaknya sebuah partai politik.

Di Kota Kendari, PDI Perjuangan kini berada di bawah kepemimpinan Apriliani Puspitasari, S.I.Kom. Ini bukan sekadar pergantian figur, melainkan peralihan generasi dan gaya kepemimpinan. Di titik inilah refleksi ulang tahun partai menjadi relevan: apa tantangan yang dihadapi, dan harapan apa yang patut disematkan?

Tantangan: Politik yang Kian Dijauhi Rakyat

Tantangan terbesar PDI Perjuangan Kota Kendari hari ini bukanlah kompetisi antarpartai, melainkan menurunnya kepercayaan publik terhadap politik itu sendiri. Banyak warga terutama generasi muda—melihat partai politik sebagai entitas elitis, jauh dari realitas hidup sehari-hari.

Dalam konteks ini, struktur partai tidak boleh hanya sibuk mengurus agenda internal dan elektoral. PDI Perjuangan di Kendari dituntut untuk keluar dari zona nyaman: lebih sering hadir di ruang-ruang sosial, mendengar keluhan warga, dan merespons persoalan kota secara nyata—bukan hanya saat musim pemilu.

Tantangan lainnya adalah menjaga soliditas kader di tengah perubahan zaman. Ideologi Pancasila dan marhaenisme sering kali terdengar besar, tetapi gagal diterjemahkan dalam bahasa dan tindakan yang membumi. Di sinilah kepemimpinan DPC diuji: mampukah ideologi menjadi panduan kerja, bukan sekadar slogan?

Kepemimpinan Perempuan dan Ujian Konsistensi

Kepemimpinan Apriliani sebagai perempuan muda sejatinya membuka harapan baru. PDI Perjuangan memiliki sejarah panjang kepemimpinan perempuan, dan itu menjadi modal ideologis yang kuat. Namun sejarah saja tidak cukup. Yang dibutuhkan adalah konsistensi antara nilai, sikap, dan kebijakan organisasi di tingkat lokal.

Aprilia atau Apriliani berada pada posisi strategis untuk membuktikan bahwa kepemimpinan bukan soal figur, tetapi soal arah. Apakah DPC PDI Perjuangan Kota Kendari akan tampil sebagai rumah aspirasi rakyat, atau sekadar kantor partai yang ramai menjelang agenda politik?

Harapan: Mengembalikan Politik sebagai Alat Pengabdian

Harapan publik terhadap PDI Perjuangan Kota Kendari sesungguhnya sederhana: hadir, mendengar, dan berpihak. Hadir dalam isu-isu rakyat kecil, mendengar suara yang sering tak terwakili, dan berpihak secara nyata—bukan simbolik.

Ulang tahun ke-53 ini seharusnya menjadi momentum evaluasi internal. Bukan untuk saling menyalahkan, tetapi untuk bertanya jujur: sejauh mana PDI Perjuangan benar-benar bekerja untuk rakyat Kota Kendari?

Di bawah kepemimpinan Apriliani, PDI Perjuangan Kota Kendari memiliki peluang untuk tampil sebagai partai yang lebih terbuka, komunikatif, dan relevan dengan zaman. Namun peluang hanya akan menjadi sejarah yang tertunda jika tidak disertai keberanian melakukan pembaruan.

PDI Perjuangan lahir dari perlawanan dan harapan. Di usia 53 tahun, partai ini ditantang untuk membuktikan bahwa semangat itu belum padam—khususnya di tingkat lokal, tempat ideologi diuji oleh realitas.

Kepemimpinan Apriliani adalah kesempatan, sekaligus ujian. Apakah PDI Perjuangan Kota Kendari mampu menjadikan ulang tahun ini sebagai titik balik menuju politik yang lebih bermakna bagi rakyat, atau sekadar ritual tahunan tanpa perubahan substansi.

Waktu, kerja nyata, dan keberpihakanlah yang akan menjawabnya. (bar)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *