Oleh: M. Ihsan Zain, L.c – Hamba Allah Swt
Isra Mi’raj sering diperingati sebagai peristiwa agung dalam sejarah Islam: perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa (Isra), lalu naik menembus lapisan langit hingga Sidratul Muntaha (Mi’raj). Namun, di tengah dunia yang kian pragmatis dan serba cepat, peringatan Isra Mi’raj kerap berhenti pada seremoni dan rutinitas tahunan, tanpa upaya serius untuk memaknainya secara kontekstual.
Padahal, Isra Mi’raj bukan sekadar kisah perjalanan metafisik, melainkan peristiwa transformasi nilai. Di sanalah umat Islam menerima perintah salat lima waktu—ibadah yang bukan hanya ritual, tetapi fondasi pembentukan karakter, disiplin, dan etika sosial.
Dalam konteks kekinian, ketika manusia hidup di tengah tekanan ekonomi, krisis moral, dan disrupsi teknologi, pesan utama Isra Mi’raj justru semakin relevan. Shalat mengajarkan keteraturan di tengah kekacauan, keheningan di tengah hiruk-pikuk informasi, serta kesadaran bahwa manusia memiliki batas dan membutuhkan sandaran spiritual.
Isra Mi’raj juga menyiratkan pesan penting tentang keseimbangan antara dimensi langit dan bumi. Nabi Muhammad SAW naik ke hadirat Ilahi, tetapi kembali ke bumi membawa amanah untuk ditunaikan di tengah masyarakat. Ini menegaskan bahwa spiritualitas sejati tidak menjauhkan manusia dari realitas sosial, melainkan justru mendorong keterlibatan aktif dalam memperbaiki kehidupan bersama.
Di era modern, ketika agama kerap direduksi menjadi simbol dan identitas, Isra Mi’raj mengingatkan bahwa iman harus tercermin dalam etika publik: kejujuran dalam bekerja, keadilan dalam memimpin, empati dalam bermasyarakat. Salat yang khusyuk semestinya melahirkan sikap amanah, bukan sekadar rutinitas gerak dan bacaan.
Lebih jauh, Isra Mi’raj juga mengajarkan bahwa kemajuan tidak selalu linear dan logis menurut ukuran manusia. Ada fase ujian, kesedihan, dan keterbatasan—seperti yang dialami Rasulullah SAW sebelum Isra Mi’raj—yang justru menjadi pintu pembuka menuju pertolongan dan penguatan dari Allah. Pesan ini penting bagi masyarakat hari ini yang mudah putus asa ketika menghadapi kegagalan atau tekanan hidup.
Memaknai Isra Mi’raj dalam konteks kekinian berarti menjadikannya cermin evaluasi diri: apakah ibadah kita telah membentuk karakter, apakah spiritualitas kita telah melahirkan tanggung jawab sosial, dan apakah relasi kita dengan Tuhan telah memperbaiki relasi kita dengan sesama manusia.
Akhirnya, Isra Mi’raj mengajarkan bahwa perjalanan paling penting bukanlah perjalanan fisik, melainkan perjalanan batin menuju kesadaran, kedewasaan, dan ketundukan. Sebuah perjalanan yang relevansinya tidak pernah usang oleh zaman. (red)





















