ANALISIS, PILARSULTRA.COM — Ketegangan global antara Amerika Serikat dan Iran kerap dipandang sebagai konflik jauh dari Indonesia. Namun bagi Sulawesi Tenggara (Sultra), yang kini menjadi salah satu lumbung nikel terbesar dunia, dinamika geopolitik global justru memiliki implikasi nyata dan langsung terhadap ekonomi daerah.
Dalam sistem ekonomi global yang saling terhubung, konflik geopolitik tidak hanya memengaruhi stabilitas politik, tetapi juga rantai pasok komoditas strategis. Nikel, sebagai bahan baku utama baterai kendaraan listrik dan industri teknologi, menempati posisi sentral dalam persaingan global energi dan industri hijau.
Geopolitik dan Harga Komoditas
Ketegangan AS–Iran berpotensi memicu ketidakpastian pasar energi dan logistik global. Gangguan di kawasan Timur Tengah sering berdampak pada jalur pelayaran, harga minyak, serta biaya produksi industri dunia. Ketika energi menjadi mahal dan pasokan terganggu, negara-negara industri cenderung mengamankan bahan baku strategis dari wilayah yang relatif stabil, termasuk Indonesia.
Dalam konteks ini, Sultra berada pada posisi strategis. Kenaikan permintaan global terhadap nikel dapat mendorong lonjakan investasi, ekspor, dan aktivitas pertambangan di daerah. Namun, peluang tersebut datang bersamaan dengan risiko volatilitas harga dan tekanan terhadap tata kelola sumber daya.
Antara Peluang Ekonomi dan Tantangan Daerah
Bagi Sultra, ketegangan global dapat membuka peluang ekonomi jangka pendek melalui meningkatnya nilai ekspor nikel. Namun tanpa kebijakan yang matang, manfaat tersebut berpotensi tidak sepenuhnya dirasakan oleh masyarakat lokal.
Lonjakan aktivitas industri sering kali membawa dampak turunan: tekanan lingkungan, konflik lahan, hingga ketimpangan sosial. Jika konflik global mendorong eksploitasi sumber daya secara agresif tanpa perencanaan berkelanjutan, daerah justru menanggung beban jangka panjang.
Di titik ini, geopolitik global menguji kesiapan pemerintah daerah dan nasional dalam memastikan bahwa posisi strategis Sultra sebagai lumbung nikel tidak hanya menguntungkan pasar internasional, tetapi juga memperkuat ekonomi lokal dan kesejahteraan masyarakat.
Stabilitas Global dan Kepentingan Daerah
Indonesia memiliki kepentingan besar untuk menjaga stabilitas global, bukan semata sebagai sikap diplomatik, tetapi sebagai kepentingan ekonomi daerah. Ketidakstabilan global yang berlarut-larut dapat menciptakan ketidakpastian investasi, fluktuasi harga, dan tekanan terhadap pendapatan daerah.
Bagi Sultra, stabilitas global berarti kepastian pasar, keberlanjutan investasi, serta ruang bagi perencanaan pembangunan jangka panjang. Dalam konteks ini, politik luar negeri Indonesia yang mendorong de-eskalasi konflik dan dialog internasional memiliki relevansi langsung bagi daerah penghasil komoditas strategis.
Ketegangan AS–Iran menunjukkan bahwa konflik global tidak lagi berada di ruang abstrak geopolitik. Dampaknya merembes hingga ke daerah-daerah penghasil sumber daya, termasuk Sulawesi Tenggara.
Sebagai lumbung nikel dunia, Sultra berada di persimpangan antara peluang dan risiko. Tantangannya bukan sekadar meningkatkan produksi, tetapi memastikan bahwa peran strategis daerah dalam ekonomi global diiringi dengan tata kelola yang adil, berkelanjutan, dan berpihak pada masyarakat.
Di tengah dunia yang tidak stabil, nilai strategis Sultra justru semakin meningkat. Pertanyaannya, apakah kita siap mengelolanya dengan visi jangka panjang?













