Andi Sakra Pangerang dan Arah Golkar Kolaka Timur ke Depan

Andi Sakra Pangerang dan Arah Golkar Kolaka Timur ke Depan

PILARSULTRA.COM — Dalam dinamika organisasi partai, tidak semua kepemimpinan diukur dari seberapa sering tampil ke publik. Ada juga kepemimpinan yang bekerja dalam senyap—menata struktur, merawat soliditas, dan memastikan partai tetap relevan di tengah perubahan politik lokal. Di Kolaka Timur, kepemimpinan semacam itu lekat dengan nama Andi Sakra Pangerang.

Selama memimpin DPD II Partai Golkar Kolaka Timur, Andi Sakra dikenal lebih banyak bekerja pada aspek konsolidasi internal. Mesin partai dirapikan, komunikasi antarkader dijaga, dan hubungan struktural dengan DPD I Golkar Sulawesi Tenggara tetap berada dalam garis yang sejalan. Dalam konteks partai modern, stabilitas internal sering kali menjadi fondasi yang luput dari sorotan, namun justru menentukan daya tahan partai dalam jangka panjang.

Golkar Koltim di bawah Andi Sakra tidak tampil reaktif, tetapi adaptif. Partai hadir dalam kontestasi politik lokal dengan pendekatan realistis—membangun koalisi, membaca peta sosial, dan menempatkan kepentingan daerah di atas ambisi personal. Ini menunjukkan gaya kepemimpinan yang tidak populis, tetapi organisatoris.

Menariknya, Andi Sakra juga tidak memosisikan diri sebagai figur sentral yang mendominasi panggung. Ia memberi ruang bagi kader, menjaga keseimbangan antara kepemimpinan dan kolektivitas. Dalam tradisi Golkar, model seperti ini justru mencerminkan watak partai karya: bekerja, bukan berteriak.

Menjelang Musyawarah Daerah (Musda), wacana tentang keberlanjutan kepemimpinan tentu menjadi bagian dari dinamika internal yang wajar. Namun bagi sebagian kader, pertanyaannya bukan sekadar siapa yang maju, melainkan kepemimpinan seperti apa yang dibutuhkan Golkar Koltim ke depan. Apakah yang reaktif dan gaduh, atau yang tenang namun konsisten?

Jika rekam jejak menjadi rujukan, maka Andi Sakra merepresentasikan pilihan kepemimpinan yang stabil, berpengalaman, dan memahami denyut organisasi dari dalam. Ia bukan figur yang dibentuk oleh momentum sesaat, melainkan oleh proses.

Di titik inilah, Golkar Kolaka Timur dihadapkan pada satu refleksi penting: menjaga kesinambungan kerja politik yang telah berjalan, atau memulai ulang dari nol. Dan sejarah partai selalu mencatat, kesinambungan sering kali menjadi kekuatan, selama tetap terbuka pada pembaruan. (red)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *